TUGAS INDIVIDU
DOSEN PENGAMPU
EKONOMI MONETER SALMIAH,S.Pd.,M.Pd.E
UAS
DI
SUSUN OLEH :
RETNO YULIA ATRIANTI
11416201267
SEMESTER 6
KELAS D
JURUSAN PENDIDIKAN IPS-EKONOMI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
2017
1.
Apa
perbedaan Cosh Push Inflation dengan Demand Pull Inflation? Jelaskan dengan
gambar!
Jawab:
Demand pull inflation
Demand pull inflation terjadi ketika permintaan masyarakat terhadap
barang dan jasa relatif lebih tinggi dibandingkan kemampuan pasar untuk
menyediakan kebutuhan tersebut pada waktu itu. Sebagai contoh, menjelang hari
raya, biasanya harga barang-barang kebutuhan pokok, makanan ringan dan pakaian
mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat yang relatif
meningkat dibandingkan biasanya.
Demand Pull Inflation
Inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah permintaan akan
barang dan jasa. Perhatikan grafik berikut.

Keterangan:
Grafik di atas menunjukkan hubungan antara harga barang (P), jumlah
yang diminta dan ditawarkan (Q), dan keseimbangan harga (E). Terjadinya Demand
Pull Inflation ketika permintaan akan barang dan jasa meningkat, maka kurva
permintaan total (D) bergeser dari D1D1 ke D2D2. Ketika itu para pedagang akan
mengambil keuntungan dengan menaikkan harga barang dari P1 ke P2. Sehingga pada
saat itu, terjadi inflasi dan menimbulkan harga keseimbangan baru dari E1 ke
E2.
Contoh kasus:
Mendekati hari raya Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong ke
pasar atau supermarket untuk membeli kue lebaran. Ketika sebelum lebaran harga
kue dibanderol Rp 15.000,00. Karena pedangang mengambil kesempatan itu untuk
memperoleh laba yang lebih tinggi, maka pedagang menaikkan menjadi Rp 25.000,00
dan menambah pasokan barang yang dijual. Mau tidak mau sang pembeli
menyetujuinya meskipun harganya lebih tinggi Rp 10.000,00. Kejadian seperti ini
dikatakan sebagai Demand Pull Inflation.
Cost push inflation
Cost push inflation terjadi ketika adanya kenaikan harga pada
barang-barang mentah yang diperlukan untuk memproduksi barang dan jasa,
sehingga harga barang dan jasa mengalami penyesuaian dengan adanya kenaikan
harga. Cost push inflation dapat disebabkan oleh adanya depresiasi nilai tukar,
inflasi di negara pengekspor barang mentah, dan dapat pula terjadi karena
adanya bencana alam dan terganggunya sistem distribusi.
aitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi
Keterangan:
Grafik di atas menunjukkan perilaku produsen ketika menghadapi
situasi dimana harga produksi mengalami peningkatan. Ketika terjadi kenaikan
harga produksi maka produsen akan menaikkan harga dari P1 ke P2 tetapi dia
justru akan menurunkan jumlah barang/jasa yang dihasilkan dari Q1 ke Q2
sehingga akan menggeser kurva penawaran dari S1S1 menjadi S2. Hal ini dilakukan
agar produsen tidak terus merugi sambil menunggu harga produksi kembali turun.
Contoh kasus:
Di Magetan ada banyak perajin dari bahan baku kulit. Ketika harga
kulit naik, maka ongkos produksi sepatu, tas dll juga akan mengalami kenaikan.
Keadaan ini disebut dengan inflasi. Agar perajin tidak merugi, mereka akan
menaikkan harga jual produknya. Perajin juga akan mengurangi jumlah produk yang
dihasilkan, karena takut dengan harga tinggi konsumen enggan membeli. Jika ini
dibiarkan terus terjadi, maka perajin untuk mengurangi beban produksi, maka
mereka akan berpikir untuk mengurangi jumlah karyawannya dan seterusnya.
Kejadian seperti ini disebut dengan Cost Push Inflation.
2.
Apa
implikasi dari kebijakan pemerintah untuk menambah jumlah uang yang beredar
menurut teori Irving Fisher?
Jawab:
· Permintaan akan uang dalam masyarakat merupakan suatu prporsi dari
volume transaksi, dan volume transaksi merupakan suatu proporsi konstan pula
dari tingkat pendapatan nasional. Jadi permintaan uang pada analisa terakahir
ditentukan oleh singkat pendapatan nasional saja, tidak dipengaruhi oleh faktor
faktor lain seperti tingkat bungan
· Dari segi kebijaksanaan ekonomi makro, teori moneter ini mempunyai
implikasi yang penting, yaitu bahwa tingkat pendapatan nasional equilibrium
tidak bisa dipengaruhi oleh kebijakan fiskal. Dalam kasus ini kebijaksanaan
moneterlah yang paling efektif untuk mengendalikan tingkat pendapatan
nasioanal.
3.
Inflasi
dapat merusak pilar pilar perekonomian suatu negara. Mengapa?
Jawab:
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah
atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh
yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu
meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja,
menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah,
yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan
perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak
bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena
harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai
negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan
mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk
dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat
merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada
tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di
tahun 2003 atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya
tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan
keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi.
Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji
mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai
mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika
tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan
menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk
berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan
masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi
menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang
lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak
yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian
lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang
diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi,
produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi
pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi
hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan
produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu.
Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut
mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di
suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang
bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan
ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan
kesejahteraan masyarakat.
4.
Kebijakan
moneter adalah kebijakan yang diambil oleh bank sentral untuk mempengaruhi
(mengendalikan) jumlah uang beredar.
a.
Sebutkan
dan jelaskan tujuan dari kebijakan moner?
b.
Sebutkan
dan jelaskan instrumen kebijakan moneter yang dapat digunakan oleh bank sentral
dalam mencapai tujuan tersebut?
c.
Diantara
berbagai instrumen kebijakan tersebut, manakah yang paling sering digunakan
oleh bank sentral, manakah pula yang paling jarang digunakan mengapa?
Jawab:
a.
Tujuan
kebijakan moneter
· Menjaga stabilitas ekonomi: stabilitas ekonomi adalah suatu keadaan
perekonomian yang berjalan sesuai dengan harapan, terkendali, dan
berkesinambungan. Artinya, pertumbuhan arus uang yang beredar seimbang dengan
pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
· Menjaga stabilitas harga: interaksi jumlah uang beredar dengan
jumlah barang dan jasa akan menghasilkan harga. Ada kalanya harga naik atau
turun tidak beraturan, sehingga perubahan harga dapat memengaruhi kegiatan
ekonomi masyarakat. Apabila harga cenderung naik terus menerus, orang akan
membelanjakan semua uangnya yang mengakibatkan terjadinya gejala ekonomi yang
disebut inflasi.
· Meningkatkan kesempatan kerja: jika jumlah uang beredar seimbang
dengan jumlah barang dan jasa maka perekonomian akan stabil. Pada keadaan
ekonomi stabil, pengusaha akan mengadakan investasi. Investasi akan
memungkinkan adanya lapangan pekerjaan baru. Adanya lapangan pekerjaan baru
atau perluasan usaha berarti meningkatkan kesempatan kerja.
· Memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran: kebijakan
moneter dapat memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Jika
negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing, harga harga barang
ekspor akan menjadi lebih murah, sehingga memperkuat daya saing dan
meningkatkan jumlah ekspor. Peningkatan jumlah ekspor akan memperbaiki neraca
perdagangan dan neraca pembayaran.
b.
Instrumen
kebijakan moneter:
· Kebijakan operasi pasar terbuka: operasi pasar terbuka adalah salah
satu kebijakan yang diambil bank sentral untuk mengurangi atau menambah jumlah
uang beredar. Kebijakan ini dilakukan dengan cara menjual sartifikat Bank
Indonesia atau membeli surat berharga di pasar modal
· Kebijakan diskonto: diskonto adalah pemerintah mengurangi atau
menambah jumlah uang beredar dengan cara mengubah diskonto bank umum. Jika bank
sentral memperhitungkan jumlah uang beredar telah melebihi kebutuhan, bank
sentral mengeluarkan keputusan untuk menaikkan suku bunga. Dengan menaikkan
suku bunga akan merangsang keinginan orang untuk menabung.
· Kebijakan cadangan kas: bank sentral dapat membuat peraturan untuk
menaikkan atau menurunkan cadangan kas. Bank umum, menerima uang dari nasabah
dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito, dan jenis tabungan
lainnya.
· Kebijakan kredit ketat: kredit tetap diberikan bank umum, tetapi
pemberiannya harus benar benar didasarkan pada syarat 5C, yaitu character,
capability, collateral, capital, dan condition of economy. Dengan kebijakan
kredit ketat, jmlah uang yang beredar dapat diawasi. Langkah kebijakan ini bisa
diambil pada saat ekonomi sedang mengalami gelaja inflasi.
· Kebijakan dorongan moral: bank sentral dapat juga memengaruhi
jumlah uang beredar dengan berbagai pengumman, pidato, dan edaran yang
ditujukan pada bank umum dan pelaku moneter lainnya. Isi pengumuman, pidato dan
edaran dapat berupan ajakan atau larangan untuk menahan pinjaman tabungan
ataupun melepaskan pinjaman.
c.
Menurut
saya instrumen yang sering digunakan adalah Kebijakan diskonto karena kenaikan
suku bunga sangat sering terjadi dan dapat mempengaruhi minat masyarakat
menabung.
Yang jarang
digunakan adalah kebijakan kredit ketat
5.
Krisis
ekonomi adalah istilah yang digunakan pada bidang ekonomi dan mengacu pada
perubahan drastis pada perekonomian. Perubahan ekonomi yang terjadi secara
cepat tersebut mengarah pada turunnya nilai tukar mata uang dan harga kebutuhan
pokok yang semakin tinggi. Krisis ekonomi dapat melanda suatu negara apabila
perubahan perekonomian sudah tidak dapat dibendung lagi. Krisis ekonomi pertama
melanda eropa sebelum perang dunia pertama yang sering disebut era great
depression, selanjutnya krisis ekonomi terjadi pada era booming minyak periode
tahun 1970, krisis ekonomi ketiga terjadi pada tahun 1997 yang melanda sebagian
besar wilayah asia serta yang terakhir terjadi di Amerika Serikat pada tahun
2008.
a.
Jelaskan
secara singkat kronologis terjadinya krisis moneter diIndonesia pada tahun
1997-1998
b.
Langkah-langkah
apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi?
Jawab:
a.
Krisis
pertama yang dialami Indonesia masa orde baru adalah kondisi ekonomi yang
sangat parah warisan orde lama.Sebagian besar produksi terhenti dan laju pertumbuhan
ekonomi selama periode 1962-1966 kurang dari 2% yang mengakibatkan penurunan
pendapatan per kapita.Defisit anggaran belanja pemerintah yang sebagian besar
dibiayai dengan kredit dari BI meningkat tajam dari 63% dari penerimaan pemerintah tahun 1962
menjadi127% tahun 1966.Selain itu,buruknya perekonomian Indonesia masa transisi
juga disebabkan oleh besarnya defisit neraca perdagangan dan utang luar
negeri,yang kebanyakan diperoleh dari negara blok timur serta inflasi yang
sangat tinggi.Disamping itu,pengawasan devisa yang amat ketat menyebabkan nilai
tukar rupiah terhadap dollar AS naik dua atau tiga kali lipat.Akibatnya terjadi
kegiatan spekulatif dan pelarian modal ke luar negeri.Hal ini memperburuk
perekonomian Indonesia pada masa itu (Siregar,1987).
Krisis
kedua adalah laju inflasi yang tinggi pada tahun 1970-an.Hal ini disebabkan
karena banyaknya jumlah uang yang beredar dan krisis pangan akhir tahun
1972.Laju inflasi memuncak hingga 41% tahun 1974 (Hill,1974).Selain itu terjadi
devaluasi rupiah sebesar 50% pada November 1978.
Bulan
September 1984,Indonesia mengalami krisis perbankan ,yang bermula dari
deregulasi perbankan 1 Juni 1983 yang memaksa bank-bank negara untuk
memobilisasi dana mereka dan memikul risiko kredit macet,serta bebas untuk
menentukan tingkat suku bunga,baik deposito berjangka maupun kredit
(Nasution,1987).Masalah-masalah tersebut terus berlangsung hingga terjadi
krisis ekonomi yang bermula pada tahun 1997 (Tambunan,1998).
Terakhir,antara
tahun 1990-1995 ekonomi Indonesia beberapa kali mengalami gangguan dari waktu
ke waktu.Pertama,walaupun tidak menimbulkan suatu krisis yang besar,apresiasi
nilai tukar yen Jepang terhadap dollar AS sempat merepotkan Indonesia.Laju
pertumbuhan ekspor Indonesia sempat terancam menurun dan beban ULN dari
pemerintah Jepang meningkat dalam nilai dollar AS.Kedua,pada awal tahun
1994,perekonomian Indonesia cukup terganggu dengan adanya arus pembelian dollar
AS yng bersifat spekulatif karena beredar isu akan adanya devaluasi rupiah.
Dari
tahun 1985 ke tahun 1995, Ekonomi Thailand tumbuh rata-rata 9%. Pada 1996, dana
hedge Amerika telah menjual $400 juta mata uang Thai.Dari 1985 sampai 2 Juli
1997, baht dipatok 25 bath per dollar AS.Pada tanggal 14 dan tanggal 15 Mei
1997, nilai tukar bath Thailand terhadap dolar AS mengalami goncangan akibat
para investor asing mengambil keputusan “jual”, karena tidak percaya lagi
terhadap prospek perekonomian dan ketidakstabilan politik Negara Thailand.
Untuk mempertahankan nilai tukar bath agar tidak jatuh terus, Thailand
melakukan intervensi yang didukung oleh Bank Sentral Singapura. Namun, pada
tanggal 2 Juli 1997, Bank Sentral Thailand mengumumkan bahwa nilai tukar bath
dibebaskan dari ikatan dollar AS dan meminta bantuan IMF. Pengumuman ini
menyebabkan nilai bath terdepresiasi sekitar 15-20% hingga mencapai nilai
terendah, yakni 28,20 bath per dollar AS. Pada 1997, sebenarnya kondisi ekonomi
di Indonesia tampak jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, tingkat inflasi
Indonesia lebih rendah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar, menguat. Dalam
kondisi ekonomi seperti itulah, banyak perusahaan di Indonesia meminjam uang
dalam bentuk dolar AS.
Krisis
moneter yang terjadi di Thailand ini, menyebabkan Indonesia dan beberapa negara
Asia, seperti Filipina, Korea dan Malaysia mengalami krisis keuangan. Ketika
krisis melanda Thailand, nilai baht terhadap dolar anjlok dan menyebabkan nilai
dolar menguat. Penguatan nilai tukar dolar berimbas ke rupiah. Sekitar bulan
Juli 1997, di Indonesia terjadi depresiasi nilai tukar rupiah, nilai rupiah
terus merosot. Di bulan Agustus 1997 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
melemah dari Rp2.500,00 menjadi Rp2.650,00 per dolar AS. Sejak saat itu, posisi
mata uang Indonesia mulai tidak stabil. Padahal, pada saat itu hutang luar
negeri Indonesia, baik swasta maupun pemerintah, sudah sangat besar. Tatanan
perbankan nasional kacau dan cadangan devisa semakin menipis.Perusahaan yang
tadinya banyak meminjam dolar (ketika nilai tukar rupiah kuat terhadap dolar),
kini sibuk memburu atau membeli dolar untuk membayar bunga pinjaman mereka yang
telah jatuh tempo, dan harus dibayar dengan dolar. Nilai rupiah pun semakin
jatuh lebih dalam lagi. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi
tidak mampu memperbaiki keadaan. Malahan akhirnya paket bantuan IMF itu, yang
dalam penggunaannya banyak terjadi penyelewengan, semakin menambah beban utang
yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia.
b.
Pada
awalnya pemerintah berusaha untuk menangani sendiri masalah krisis ini. Namun
setelah menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak
dapat dibendung sendiri,lebih lagi cadangan dollar AS di BI sudah mulai menipis
karena terus digunakan untuk meningkatkan kembali nilai tukar rupiah, tanggal 8
Oktober1997 pemerintah resmi akan meminta bantuan kepada IMF. Strategi
pemulihan IMF dalam garis besarnya ialah mengembalikan kepercayaan masyarakat
dalam dan luar negeri terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Inti dari setiap
program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial (Fischer 1998b).
Kemudian antara Indonesia dan IMF membuat nota kesepakatan, terdiri atas 50
butir kebijakan mencakup ekonomi makro (fiskal dan moneter), restrukturisasi
sektor keuangan, dan reformasi struktural, yang ditandatangani bersama.
Butir-butir
dalam kebijakan fiskal meliputi, tetap menggunakan prinsip anggaran berimbang,
usaha-usaha untuk mengurangi pengeluaran, seperti menghilangkan subsidi BBM dan
listrik serta membatalkan sejumlah proyek infrastruktur besar, dan yang
terakhir meningkatkan pendapatan pemerintah dengan penangguhan PPN dan
fasilitas pajak serta bea cukai, mengenakan pajak tambahan terhadap bensin,
memperbaiki audit PPN dan memperbanyak objek pajak.
Namun
kesepakatan itu gagal, karena syarat-syarat dari IMF dirasa berat oleh
Indonesia. Maka dari itu dilakukanlah negosiasi dan dihasilkan kesepakatan yang
ditandatangani 15 Januari 1998. Pokok-pokok dari program IMF itu antara lain,
kebijakan makro ekonomi yang terdiri dari kebijakan fiskal dan kebijakan
moneter serta nilai tukar, kemudian restrukturisasi sektor keuangan yang
terdiri dari program restrukturisasi bank dan memperkuat aspek hukum dan
pengawasan untuk perbankan, dan yang terakhir adalah reformasi structural yang
terdiri dari perdagangan luar negeri dan investasi, deregulasi dan swastanisasi,
social safety net dan lingkungan hidup.
Pelaksanaan
kesepakatan kedua ini kembali menghadapi bebagai hambatan, kemudian diadakan
negosiasi ulang yang menghasilkan Supplementary Memorandum pada tanggal 10
April 1998 yang terdiri atas 20 butir, 7 appendix dan satu matriks. Strategi
yang akan dilaksanakan adalah menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai
dengan kekuatan ekonomi Indonesia, memperkuat dan mempercepat restrukturisasi
sistim perbankan, memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun
ekonomi yang efisien dan berdaya saing, menyusun kerangka untuk mengatasi
masalah utang perusahaan swasta, dan yang terakhir adalah mengembalikan
pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal, sehingga ekspor bangkit
kembali.
Sedangkan
ke tujuh appendix itu antara lain, kebijakan moneter dan suku bunga,
pembangunan sektor perbankan, bantua anggaran pemerintah untuk golongan lemah,
reformasi BUMN dan swastanisasi, reformasi structural, restrukturisasi utang
swasta, dan hukum kebangkrutan dan reformasi yuridis.
6.
Mata
uang (currency) sebuah negara pada dasarnya berlaku kerna adanya kesepakatan
diantara negara yang bersangkutan untuk memperlakukan mata uang tersebut
sebagai alat pembayaran yang sah.
a.
Sebagai
alat pembayran yang sah, terdapat berbagai fungsi mata uang, sebutkan dan
jelaskan!
b.
Mata
uang euro, berlaku diantara negara anggota ekonomi eropa. Jelaskan bagaimana
hal itu bisa terjadi! Dan bagaimana pula mata uang dollar amerika dapat berlaku
secara internasional?apa bedanya dasar berlakunya mata uang euro di kawasan
negara negara anggota ekonomi eropa dengan mata uang dollar amerika yang berlaku
secara global!
Jawab:
a.
Fungsi
pokok uang :
· Uang mempunyai satu tujuan fundamental dalam sistem ekonomi, yaitu Memudahkan
pertukaran barang dan jasa.
· Mempersingkat waktu dan usaha yang diperlukan untuk melakukan
perdagangan.
Fungsi-fungsi
asli uang :
•
Uang sebagai satuan nilai
Fungsi
uang yang pertama dikenal dengan berbagai sebutan, salah satunya yang paling
umum adalah satuan nilai (unit of value), standar nilai (standard of value),
satuan hitung (unit of account), nilai ukur umum (common measure of value) dan
nilai denominasi umum (common denominator of value).Semua istilah-istilah ini
mewakili satu gagasan yang umum : Satuan moneter berfungsi sebagai satuan
terhadap mana nilai dari barang dan jasa diukur dan dinyatakan.
•
Uang sebagai alat tukar
Adalah
Uang dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah pertukaran. Agar uang dapat
berfungsi dengan baik diperlukan kepercayaan masyarakat. Masyarakat harus
bersedia dan rela menerimanya. Berbagai istilah telah diberikan untuk fungsi
uang yang kedua ini: alat tukar (medium of exchange), perantara pembayaran
(medium of payment), alat sirkulasi (sirculating medium), dan alat pembayaran
(means of payment). Satu-satunya syarat yang diperlukan untuk obyek yang akan
digunakan sebagai uang adalah bahwa orang umumnya bersedia menerimanya dalam
pertukaran barang dan jasa.
•
Uang sebagai gudang nilai (store of value)
Fungsi
ketiga dari uang, yang sebagian besar yang berasal dari fungsi alat tukar,
ialah bahwa uang itu berfungsi sebagai gudang nilai. Yang dimaksud dengan
fungsi ini pada dasarnya adalah bahwa uang itu berfungsi sebagai alat tukar,
baik sepanjang waktu maupun sewaktu-waktu.
•
Uang sebagai alat penimbun kekayaan
Setelah uang
digunakan sebagai satuan nilai dan diterima secara umum sebagai alat
pembayaran, dengan cepat uang itu digunakan secara luas sebagai alat penimbun
kekayaan. Semua orang dan preusan bisnis bebas memilih dalam bentuk apa, mereka
akan menimbun kekayaan mereka, menetukan berapa yang akan mereka pegang dalam
bentuk uang dalam berbagai bentuk non moneter dan merubahnya dari waktu ke
waktu untuk mencapai
proporsi yang menurut mereka paling menguntungkan berdasarkan
penghasilan, keamanan dan likuiditas.
• Uang sebagai unit perhitungan
Untuk menentukan harga sejenis barang diperlukan satuan hitung,
juga dengan adanya satuan hitung, kita dapat mengadakan perbandingan harga satu
barang dengan barang lain. Walaupun uang hampir selalu berfungsi sebagai unit
perhitungan, namun ada contoh-contoh sejarah dimana hal itu tidak terjadi.
Dalam hiper – inflasi (inflasi yang sangat besar). Misalnya, bila harga-harga
naik hampir setiap jam, para pedagang mengadakan pembukuan dengan menggunakan
istilah valuta asing, dengan nilai yang lebih stabil daripada nilai mata uang
dalam negeri walaupun mata uang dalam negeri itu terus beredar. Dengan alasan
ini beberapa sarjana dan ahli ekonomi lebih suka berfikir tentang unit
perhitungan sebagaimana yang diharapkan, tetapi tidak harus merupakan sifat dan
milik (property) uang. Tetapi untuk segala tujuan yang praktis, uang itu
berfungsi sebagai unit perhitungan.
Fungsi Turunan, yaitu :
• Sebagai alat pembayaran yang sahTidak semua orang dapat
menciptakan uang terutama uang kartal, karena uang hanya dikeluarkan oleh
lembaga tertentu, di Indonesia dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku Bank
Sentral.
• Alat penyimpan kekayaan dan pemindah kekayaan.Dengan uang,
kekayaan berupa tanah, gedung, dapat dipindah pemilikannya dengan menggunakan
uang.
• Alat pendorong kegiatan ekonomi.Apabila nilai uang stabil, orang
senang menggunakan uang itu dalam kegiatan ekonomi, selanjutnya apabila
kegiatan ekonomi meningkat, uang dalam peredaran harus ditambah sesuai dengan
kebutuhan.
• Standar pencicilan utang.Uang dapat berfungsi sebagai standar
untuk melakukan pembayaran dikemudian hari, pembayaran berjangka panjang atau
pencicilan utang.
b. Tahap Satu: 1 Juli 1990 hingga 31 Desember 1993
·
Pada tanggal 1 Juli
1990, pengendalian nilai tukar dihapuskan, sehingga pergerakan modal dibebaskan
secara penuh di dalam Komunitas Ekonomi Eropa.
·
Perjanjian Maastricht tahun 1992 menetapkan penyelesaian EMU sebagai tugas formal dan merumuskan
serangkaian kriteria pergeseran mengenai tingkat inflasi, keuangan publik, tingkat suku bunga dan
stabilitas nilai tukar.
·
Perjanjian ini
diberlakukan tanggal 1 November 1993.
Tahap Dua: 1 Januari
1994 hingga 31 Desember 1998
·
Institut Moneter
Eropa didirikan sebagai
pendahulu Bank Sentral Eropa, dengan tugas memperkuat kerja sama moneter
antarnegara anggota dan bank-bank nasional mereka, serta mengawasi uang kertas
ECU.
·
Pada tanggal 16
Desember 1995, rincian seperti nama mata uang baru (euro) dan lama periode
transisi diputuskan.
·
Pada tanggal 16–17 Juni
1997, Dewan Eropa memutuskan di Amsterdam untuk mengadopsi Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan, yang dirancang untuk
menjamin disiplin anggaran setelah penciptaan euro, dan mekanisme nilai tukar
baru (ERM II) ditetapkan untuk memberikan stabilitas di atas euro dan mata uang
nasional negara-negara yang belum memasuki zona euro.
·
Pada tanggal 3 Mei
1998, dalam sesi Dewan Eropa di Brussels, 11 negara awal yang akan
berpartisipasi dalam tahap tiga mulai 1 Januari 1999 dipilih.
·
Pada tanggal 1 Juni
1998, Bank Sentral Eropa (ECB) dibentuk, dan pada tanggal 31 Desember 1998, nilai tukar antara 11
mata uang nasional yang berpartisipasi dan euro ditetapkan.
Tahap Tiga: 1 Januari
1999 dan seterusnya
·
Sejak awal 1999, euro
menjadi mata uang nyata, dan kebijakan moneter tunggal diperkenalkan di bawah
otoritas ECB. Masa transisi tiga tahun dimulai sebelum pengenalan uang kertas dan koin euro, namun secara hukum mata uang negara-negara anggota sudah tidak berlaku
lagi.
·
Pada tanggal 1 Januari
2001, Yunani memasuki tahap ketiga EMU.
·
Uang kertas dan koin
euro diperkenalkan bulan Januari 2002.
·
Pada tanggal 1 Januari
2007, Slovenia memasuki tahap ketiga EMU.
·
Pada tanggal 1 Januari
2008, Siprus dan Malta memasuki tahap ketiga EMU.
·
Pada tanggal 1 Januari
2009, Slowakia memasuki tahap ketiga EMU.
·
Pada tanggal 1 Januari
2011, Estonia memasuki tahap ketiga EMU.
·
Pada tanggal 1 Januari
2014, Latvia memasuki tahap ketiga EMU.
·
Pada tanggal 1 Januari
2015, Lituania memasuki tahap ketiga EMU.
Alasan dollar menjadi
mata uang internasional
1. Kekuatan Ekonomi
Penyebab
utama mengapa mata uang sebuah negara bisa begitu mendominasi, tentu saja nomor
satu adalah kekuatan ekonominya. Di masa lalu, basis penilaiannya adalah
seberapa banyak persediaan emas, tetapi kini sudah berbeda. Semakin besar Gross Domestic Product (GDP) suatu negara
dan volume transaksi lintas batasnya, maka makin besarlah permintaan untuk mata
uangnya. Lebih dari sekedar soal seberapa sehat ekonominya, suatu negeri mesti
menjadi pusat permintaan barang dan jasa, sehingga mata uangnya bisa tersedia
dengan mudah, didukung oleh sektor ekonomi yang kuat, dan bebas dari campur tangan
pemerintah. Tak bisa dipungkiri bahwa hingga tahun 2016 ini, Amerika Serikat
merupakan negara dengan total GDP terbesar dan pertumbuhannya sangat
consumer-driven, di samping juga memiliki berbagai industri besar berskala
internasional. Nilai tukar mata uangnya pun diserahkan sepenuhnya pada
mekanisme pasar, tanpa adanya intervensi langsung dari pihak pemerintah.
2. Negeri Adidaya Militer
Kekuatan militer, baik dari segi personel, persenjataan, maupun intelijen Amerika Serikat sulit dicari tandingannya. Sepanjang sejarah umat manusia, khususnya di era penjajahan dan masa perang dunia, rangkaian peristiwa di mana suatu mata uang menguat diiringi oleh kekuatan militer dominan bukanlah hanya satu atau dua.Dalam laporan Military Strength Index bulan September 2015, AS menempati posisi pertama, disusul oleh Rusia, China, Jepang, dan India di urutan lima besar (Indonesia ada di peringkat 19). Bisa dikatakan bahwa negeri yang kuat secara militer bukanlah AS saja. Namun, mata uang negeri-negeri itu belum tentu memenuhi persyaratan lainnya seperti dolar, dan mereka pun jelas tak menempati rangking satu.
3. Prestise Diplomasi Luar Negeri
Setiap
negara cenderung melakukan transaksi perdagangan maupun finansial dengan negara
lain dengan siapa mereka punya hubungan baik. Ini salah satu sebab terkuat
mengala Dolar jadi mata uang dunia. Kekuatan diplomasi AS mengungguli
negara-negara lainnya, bahkan dibanding mereka yang memiliki kekuatan ekonomi
dan militer nyaris mampu bersaing. Ini karena prestise diplomasi bukan soal
berapa banyak negara yang "takut", melainkan pada seberapa mampu tim
diplomat melobi, berkawan, dan meluaskan jaringan. Mengikuti logika ini, maka
negara yang mata uangnya tidak laku biasanya memiliki hubungan buruk dengan
negara-negara lainnya. Ambil contoh negara Zimbabwe yang mata uang-nya sudah hancur lebur.
Faktanya, ada atas Zimbabwe dari Uni Eropa karena tindakan pelanggaran HAM
pemerintahan Robert Mugabe. Atau Korea Utara yang praktis hanya memiliki
hubungan dagang dengan China, penukaran mata uangnya pun kabarnya terbatas di
wilayah itu saja. Dalam konteks ini, maka bisa dipahami bagaimana Amerika
Serikat yang terlibat dan puluhan perjanjian perdagangan dan aliansi lintas
negara bisa membuat dolar jadi mata uang dunia.
3. Stabilitas
Dan Kredibilitas, Diterima Di Mana-Mana
Jika
Anda ingin pergi belanja di mall, maka tentu akan memastikan dulu bahwa di
dalam dompet ada uang yang berlaku secara legal (bukan uang palsu) atau kartu
debit/kredit dari bank yang bonafide, bisa diterima di banyak merchant.
Demikian pula, pelaku transaksi antar negara akan memastikan bahwa mata uang
yang dipakainya memiliki kredibilitas memadai dan akan diterima oleh counterparty.
Banyak negara menjadikan Dolar AS sebagai mata uang utama cadangan devisanya
semata karena alasan ini (selain juga ketiga poin di atas).