Rabu, 14 Juni 2017

ekonomi moneter



TUGAS INDIVIDU                                                                             DOSEN PENGAMPU
EKONOMI MONETER                                                                 SALMIAH,S.Pd.,M.Pd.E


UAS

DI SUSUN OLEH :
RETNO YULIA ATRIANTI
11416201267
SEMESTER 6
KELAS D

JURUSAN PENDIDIKAN IPS-EKONOMI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
2017

1.      Apa perbedaan Cosh Push Inflation dengan Demand Pull Inflation? Jelaskan dengan gambar!
Jawab:
 Demand pull inflation
Demand pull inflation terjadi ketika permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa relatif lebih tinggi dibandingkan kemampuan pasar untuk menyediakan kebutuhan tersebut pada waktu itu. Sebagai contoh, menjelang hari raya, biasanya harga barang-barang kebutuhan pokok, makanan ringan dan pakaian mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat yang relatif meningkat dibandingkan biasanya.
Demand Pull Inflation
Inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah permintaan akan barang dan jasa. Perhatikan grafik berikut.
 
 Keterangan:
Grafik di atas menunjukkan hubungan antara harga barang (P), jumlah yang diminta dan ditawarkan (Q), dan keseimbangan harga (E). Terjadinya Demand Pull Inflation ketika permintaan akan barang dan jasa meningkat, maka kurva permintaan total (D) bergeser dari D1D1 ke D2D2. Ketika itu para pedagang akan mengambil keuntungan dengan menaikkan harga barang dari P1 ke P2. Sehingga pada saat itu, terjadi inflasi dan menimbulkan harga keseimbangan baru dari E1 ke E2.
Contoh kasus:
Mendekati hari raya Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong ke pasar atau supermarket untuk membeli kue lebaran. Ketika sebelum lebaran harga kue dibanderol Rp 15.000,00. Karena pedangang mengambil kesempatan itu untuk memperoleh laba yang lebih tinggi, maka pedagang menaikkan menjadi Rp 25.000,00 dan menambah pasokan barang yang dijual. Mau tidak mau sang pembeli menyetujuinya meskipun harganya lebih tinggi Rp 10.000,00. Kejadian seperti ini dikatakan sebagai Demand Pull Inflation.

Cost push inflation
Cost push inflation terjadi ketika adanya kenaikan harga pada barang-barang mentah yang diperlukan untuk memproduksi barang dan jasa, sehingga harga barang dan jasa mengalami penyesuaian dengan adanya kenaikan harga. Cost push inflation dapat disebabkan oleh adanya depresiasi nilai tukar, inflasi di negara pengekspor barang mentah, dan dapat pula terjadi karena adanya bencana alam dan terganggunya sistem distribusi.
aitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi
           
 Keterangan:
Grafik di atas menunjukkan perilaku produsen ketika menghadapi situasi dimana harga produksi mengalami peningkatan. Ketika terjadi kenaikan harga produksi maka produsen akan menaikkan harga dari P1 ke P2 tetapi dia justru akan menurunkan jumlah barang/jasa yang dihasilkan dari Q1 ke Q2 sehingga akan menggeser kurva penawaran dari S1S1 menjadi S2. Hal ini dilakukan agar produsen tidak terus merugi sambil menunggu harga produksi kembali turun.
Contoh kasus:
Di Magetan ada banyak perajin dari bahan baku kulit. Ketika harga kulit naik, maka ongkos produksi sepatu, tas dll juga akan mengalami kenaikan. Keadaan ini disebut dengan inflasi. Agar perajin tidak merugi, mereka akan menaikkan harga jual produknya. Perajin juga akan mengurangi jumlah produk yang dihasilkan, karena takut dengan harga tinggi konsumen enggan membeli. Jika ini dibiarkan terus terjadi, maka perajin untuk mengurangi beban produksi, maka mereka akan berpikir untuk mengurangi jumlah karyawannya dan seterusnya. Kejadian seperti ini disebut dengan Cost Push Inflation. 

2.      Apa implikasi dari kebijakan pemerintah untuk menambah jumlah uang yang beredar menurut teori Irving Fisher?
Jawab:
·      Permintaan akan uang dalam masyarakat merupakan suatu prporsi dari volume transaksi, dan volume transaksi merupakan suatu proporsi konstan pula dari tingkat pendapatan nasional. Jadi permintaan uang pada analisa terakahir ditentukan oleh singkat pendapatan nasional saja, tidak dipengaruhi oleh faktor faktor lain seperti tingkat bungan
·      Dari segi kebijaksanaan ekonomi makro, teori moneter ini mempunyai implikasi yang penting, yaitu bahwa tingkat pendapatan nasional equilibrium tidak bisa dipengaruhi oleh kebijakan fiskal. Dalam kasus ini kebijaksanaan moneterlah yang paling efektif untuk mengendalikan tingkat pendapatan nasioanal.

3.      Inflasi dapat merusak pilar pilar perekonomian suatu negara. Mengapa?
Jawab:
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.                                                         
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.


4.      Kebijakan moneter adalah kebijakan yang diambil oleh bank sentral untuk mempengaruhi (mengendalikan) jumlah uang beredar.
a.       Sebutkan dan jelaskan tujuan dari kebijakan moner?
b.      Sebutkan dan jelaskan instrumen kebijakan moneter yang dapat digunakan oleh bank sentral dalam mencapai tujuan tersebut?
c.       Diantara berbagai instrumen kebijakan tersebut, manakah yang paling sering digunakan oleh bank sentral, manakah pula yang paling jarang digunakan mengapa?
Jawab:
a.    Tujuan kebijakan moneter
·      Menjaga stabilitas ekonomi: stabilitas ekonomi adalah suatu keadaan perekonomian yang berjalan sesuai dengan harapan, terkendali, dan berkesinambungan. Artinya, pertumbuhan arus uang yang beredar seimbang dengan pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
·      Menjaga stabilitas harga: interaksi jumlah uang beredar dengan jumlah barang dan jasa akan menghasilkan harga. Ada kalanya harga naik atau turun tidak beraturan, sehingga perubahan harga dapat memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Apabila harga cenderung naik terus menerus, orang akan membelanjakan semua uangnya yang mengakibatkan terjadinya gejala ekonomi yang disebut inflasi.
·      Meningkatkan kesempatan kerja: jika jumlah uang beredar seimbang dengan jumlah barang dan jasa maka perekonomian akan stabil. Pada keadaan ekonomi stabil, pengusaha akan mengadakan investasi. Investasi akan memungkinkan adanya lapangan pekerjaan baru. Adanya lapangan pekerjaan baru atau perluasan usaha berarti meningkatkan kesempatan kerja.
·      Memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran: kebijakan moneter dapat memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Jika negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing, harga harga barang ekspor akan menjadi lebih murah, sehingga memperkuat daya saing dan meningkatkan jumlah ekspor. Peningkatan jumlah ekspor akan memperbaiki neraca perdagangan dan neraca pembayaran.
b.    Instrumen kebijakan moneter:
·      Kebijakan operasi pasar terbuka: operasi pasar terbuka adalah salah satu kebijakan yang diambil bank sentral untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan dengan cara menjual sartifikat Bank Indonesia atau membeli surat berharga di pasar modal
·      Kebijakan diskonto: diskonto adalah pemerintah mengurangi atau menambah jumlah uang beredar dengan cara mengubah diskonto bank umum. Jika bank sentral memperhitungkan jumlah uang beredar telah melebihi kebutuhan, bank sentral mengeluarkan keputusan untuk menaikkan suku bunga. Dengan menaikkan suku bunga akan merangsang keinginan orang untuk menabung.
·      Kebijakan cadangan kas: bank sentral dapat membuat peraturan untuk menaikkan atau menurunkan cadangan kas. Bank umum, menerima uang dari nasabah dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito, dan jenis tabungan lainnya.
·      Kebijakan kredit ketat: kredit tetap diberikan bank umum, tetapi pemberiannya harus benar benar didasarkan pada syarat 5C, yaitu character, capability, collateral, capital, dan condition of economy. Dengan kebijakan kredit ketat, jmlah uang yang beredar dapat diawasi. Langkah kebijakan ini bisa diambil pada saat ekonomi sedang mengalami gelaja inflasi.
·      Kebijakan dorongan moral: bank sentral dapat juga memengaruhi jumlah uang beredar dengan berbagai pengumman, pidato, dan edaran yang ditujukan pada bank umum dan pelaku moneter lainnya. Isi pengumuman, pidato dan edaran dapat berupan ajakan atau larangan untuk menahan pinjaman tabungan ataupun melepaskan pinjaman.
c.    Menurut saya instrumen yang sering digunakan adalah Kebijakan diskonto karena kenaikan suku bunga sangat sering terjadi dan dapat mempengaruhi minat masyarakat menabung.
Yang jarang digunakan adalah kebijakan kredit ketat
5.      Krisis ekonomi adalah istilah yang digunakan pada bidang ekonomi dan mengacu pada perubahan drastis pada perekonomian. Perubahan ekonomi yang terjadi secara cepat tersebut mengarah pada turunnya nilai tukar mata uang dan harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Krisis ekonomi dapat melanda suatu negara apabila perubahan perekonomian sudah tidak dapat dibendung lagi. Krisis ekonomi pertama melanda eropa sebelum perang dunia pertama yang sering disebut era great depression, selanjutnya krisis ekonomi terjadi pada era booming minyak periode tahun 1970, krisis ekonomi ketiga terjadi pada tahun 1997 yang melanda sebagian besar wilayah asia serta yang terakhir terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008.
a.       Jelaskan secara singkat kronologis terjadinya krisis moneter diIndonesia pada tahun 1997-1998
b.      Langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi?
Jawab:
a.         Krisis pertama yang dialami Indonesia masa orde baru adalah kondisi ekonomi yang sangat parah warisan orde lama.Sebagian besar produksi terhenti dan laju pertumbuhan ekonomi selama periode 1962-1966 kurang dari 2% yang mengakibatkan penurunan pendapatan per kapita.Defisit anggaran belanja pemerintah yang sebagian besar dibiayai dengan kredit dari BI meningkat tajam dari 63%  dari penerimaan pemerintah tahun 1962 menjadi127% tahun 1966.Selain itu,buruknya perekonomian Indonesia masa transisi juga disebabkan oleh besarnya defisit neraca perdagangan dan utang luar negeri,yang kebanyakan diperoleh dari negara blok timur serta inflasi yang sangat tinggi.Disamping itu,pengawasan devisa yang amat ketat menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS naik dua atau tiga kali lipat.Akibatnya terjadi kegiatan spekulatif dan pelarian modal ke luar negeri.Hal ini memperburuk perekonomian Indonesia pada masa itu (Siregar,1987).
Krisis kedua adalah laju inflasi yang tinggi pada tahun 1970-an.Hal ini disebabkan karena banyaknya jumlah uang yang beredar dan krisis pangan akhir tahun 1972.Laju inflasi memuncak hingga 41% tahun 1974 (Hill,1974).Selain itu terjadi devaluasi rupiah sebesar 50% pada November 1978.
Bulan September 1984,Indonesia mengalami krisis perbankan ,yang bermula dari deregulasi perbankan 1 Juni 1983 yang memaksa bank-bank negara untuk memobilisasi dana mereka dan memikul risiko kredit macet,serta bebas untuk menentukan tingkat suku bunga,baik deposito berjangka maupun kredit (Nasution,1987).Masalah-masalah tersebut terus berlangsung hingga terjadi krisis ekonomi yang bermula pada tahun 1997 (Tambunan,1998).
Terakhir,antara tahun 1990-1995 ekonomi Indonesia beberapa kali mengalami gangguan dari waktu ke waktu.Pertama,walaupun tidak menimbulkan suatu krisis yang besar,apresiasi nilai tukar yen Jepang terhadap dollar AS sempat merepotkan Indonesia.Laju pertumbuhan ekspor Indonesia sempat terancam menurun dan beban ULN dari pemerintah Jepang meningkat dalam nilai dollar AS.Kedua,pada awal tahun 1994,perekonomian Indonesia cukup terganggu dengan adanya arus pembelian dollar AS yng bersifat spekulatif karena beredar isu akan adanya devaluasi rupiah.
Dari tahun 1985 ke tahun 1995, Ekonomi Thailand tumbuh rata-rata 9%. Pada 1996, dana hedge Amerika telah menjual $400 juta mata uang Thai.Dari 1985 sampai 2 Juli 1997, baht dipatok 25 bath per dollar AS.Pada tanggal 14 dan tanggal 15 Mei 1997, nilai tukar bath Thailand terhadap dolar AS mengalami goncangan akibat para investor asing mengambil keputusan “jual”, karena tidak percaya lagi terhadap prospek perekonomian dan ketidakstabilan politik Negara Thailand. Untuk mempertahankan nilai tukar bath agar tidak jatuh terus, Thailand melakukan intervensi yang didukung oleh Bank Sentral Singapura. Namun, pada tanggal 2 Juli 1997, Bank Sentral Thailand mengumumkan bahwa nilai tukar bath dibebaskan dari ikatan dollar AS dan meminta bantuan IMF. Pengumuman ini menyebabkan nilai bath terdepresiasi sekitar 15-20% hingga mencapai nilai terendah, yakni 28,20 bath per dollar AS. Pada 1997, sebenarnya kondisi ekonomi di Indonesia tampak jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, tingkat inflasi Indonesia lebih rendah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar, menguat. Dalam kondisi ekonomi seperti itulah, banyak perusahaan di Indonesia meminjam uang dalam bentuk dolar AS.
Krisis moneter yang terjadi di Thailand ini, menyebabkan Indonesia dan beberapa negara Asia, seperti Filipina, Korea dan Malaysia mengalami krisis keuangan. Ketika krisis melanda Thailand, nilai baht terhadap dolar anjlok dan menyebabkan nilai dolar menguat. Penguatan nilai tukar dolar berimbas ke rupiah. Sekitar bulan Juli 1997, di Indonesia terjadi depresiasi nilai tukar rupiah, nilai rupiah terus merosot. Di bulan Agustus 1997 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah dari Rp2.500,00 menjadi Rp2.650,00 per dolar AS. Sejak saat itu, posisi mata uang Indonesia mulai tidak stabil. Padahal, pada saat itu hutang luar negeri Indonesia, baik swasta maupun pemerintah, sudah sangat besar. Tatanan perbankan nasional kacau dan cadangan devisa semakin menipis.Perusahaan yang tadinya banyak meminjam dolar (ketika nilai tukar rupiah kuat terhadap dolar), kini sibuk memburu atau membeli dolar untuk membayar bunga pinjaman mereka yang telah jatuh tempo, dan harus dibayar dengan dolar. Nilai rupiah pun semakin jatuh lebih dalam lagi. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi tidak mampu memperbaiki keadaan. Malahan akhirnya paket bantuan IMF itu, yang dalam penggunaannya banyak terjadi penyelewengan, semakin menambah beban utang yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia.
b.         Pada awalnya pemerintah berusaha untuk menangani sendiri masalah krisis ini. Namun setelah menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak dapat dibendung sendiri,lebih lagi cadangan dollar AS di BI sudah mulai menipis karena terus digunakan untuk meningkatkan kembali nilai tukar rupiah, tanggal 8 Oktober1997 pemerintah resmi akan meminta bantuan kepada IMF. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya ialah mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial (Fischer 1998b). Kemudian antara Indonesia dan IMF membuat nota kesepakatan, terdiri atas 50 butir kebijakan mencakup ekonomi makro (fiskal dan moneter), restrukturisasi sektor keuangan, dan reformasi struktural, yang ditandatangani bersama.
Butir-butir dalam kebijakan fiskal meliputi, tetap menggunakan prinsip anggaran berimbang, usaha-usaha untuk mengurangi pengeluaran, seperti menghilangkan subsidi BBM dan listrik serta membatalkan sejumlah proyek infrastruktur besar, dan yang terakhir meningkatkan pendapatan pemerintah dengan penangguhan PPN dan fasilitas pajak serta bea cukai, mengenakan pajak tambahan terhadap bensin, memperbaiki audit PPN dan memperbanyak objek pajak.
Namun kesepakatan itu gagal, karena syarat-syarat dari IMF dirasa berat oleh Indonesia. Maka dari itu dilakukanlah negosiasi dan dihasilkan kesepakatan yang ditandatangani 15 Januari 1998. Pokok-pokok dari program IMF itu antara lain, kebijakan makro ekonomi yang terdiri dari kebijakan fiskal dan kebijakan moneter serta nilai tukar, kemudian restrukturisasi sektor keuangan yang terdiri dari program restrukturisasi bank dan memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan, dan yang terakhir adalah reformasi structural yang terdiri dari perdagangan luar negeri dan investasi, deregulasi dan swastanisasi, social safety net dan lingkungan hidup.
Pelaksanaan kesepakatan kedua ini kembali menghadapi bebagai hambatan, kemudian diadakan negosiasi ulang yang menghasilkan Supplementary Memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir, 7 appendix dan satu matriks. Strategi yang akan dilaksanakan adalah menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia, memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan, memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing, menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta, dan yang terakhir adalah mengembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal, sehingga ekspor bangkit kembali.
Sedangkan ke tujuh appendix itu antara lain, kebijakan moneter dan suku bunga, pembangunan sektor perbankan, bantua anggaran pemerintah untuk golongan lemah, reformasi BUMN dan swastanisasi, reformasi structural, restrukturisasi utang swasta, dan hukum kebangkrutan dan reformasi yuridis.

6.      Mata uang (currency) sebuah negara pada dasarnya berlaku kerna adanya kesepakatan diantara negara yang bersangkutan untuk memperlakukan mata uang tersebut sebagai alat pembayaran yang sah.
a.       Sebagai alat pembayran yang sah, terdapat berbagai fungsi mata uang, sebutkan dan jelaskan!
b.      Mata uang euro, berlaku diantara negara anggota ekonomi eropa. Jelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi! Dan bagaimana pula mata uang dollar amerika dapat berlaku secara internasional?apa bedanya dasar berlakunya mata uang euro di kawasan negara negara anggota ekonomi eropa dengan mata uang dollar amerika yang berlaku secara global!
Jawab:
a.       Fungsi pokok uang :
·      Uang mempunyai satu tujuan fundamental dalam sistem ekonomi, yaitu Memudahkan pertukaran barang dan jasa.
·      Mempersingkat waktu dan usaha yang diperlukan untuk melakukan perdagangan.
Fungsi-fungsi asli uang :
• Uang sebagai satuan nilai
Fungsi uang yang pertama dikenal dengan berbagai sebutan, salah satunya yang paling umum adalah satuan nilai (unit of value), standar nilai (standard of value), satuan hitung (unit of account), nilai ukur umum (common measure of value) dan nilai denominasi umum (common denominator of value).Semua istilah-istilah ini mewakili satu gagasan yang umum : Satuan moneter berfungsi sebagai satuan terhadap mana nilai dari barang dan jasa diukur dan dinyatakan.
• Uang sebagai alat tukar
Adalah Uang dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah pertukaran. Agar uang dapat berfungsi dengan baik diperlukan kepercayaan masyarakat. Masyarakat harus bersedia dan rela menerimanya. Berbagai istilah telah diberikan untuk fungsi uang yang kedua ini: alat tukar (medium of exchange), perantara pembayaran (medium of payment), alat sirkulasi (sirculating medium), dan alat pembayaran (means of payment). Satu-satunya syarat yang diperlukan untuk obyek yang akan digunakan sebagai uang adalah bahwa orang umumnya bersedia menerimanya dalam pertukaran barang dan jasa.
• Uang sebagai gudang nilai (store of value)
Fungsi ketiga dari uang, yang sebagian besar yang berasal dari fungsi alat tukar, ialah bahwa uang itu berfungsi sebagai gudang nilai. Yang dimaksud dengan fungsi ini pada dasarnya adalah bahwa uang itu berfungsi sebagai alat tukar, baik sepanjang waktu maupun sewaktu-waktu.
• Uang sebagai alat penimbun kekayaan
Setelah uang digunakan sebagai satuan nilai dan diterima secara umum sebagai alat pembayaran, dengan cepat uang itu digunakan secara luas sebagai alat penimbun kekayaan. Semua orang dan preusan bisnis bebas memilih dalam bentuk apa, mereka akan menimbun kekayaan mereka, menetukan berapa yang akan mereka pegang dalam bentuk uang dalam berbagai bentuk non moneter dan merubahnya dari waktu ke waktu untuk mencapai
proporsi yang menurut mereka paling menguntungkan berdasarkan penghasilan, keamanan dan likuiditas.
• Uang sebagai unit perhitungan
Untuk menentukan harga sejenis barang diperlukan satuan hitung, juga dengan adanya satuan hitung, kita dapat mengadakan perbandingan harga satu barang dengan barang lain. Walaupun uang hampir selalu berfungsi sebagai unit perhitungan, namun ada contoh-contoh sejarah dimana hal itu tidak terjadi. Dalam hiper – inflasi (inflasi yang sangat besar). Misalnya, bila harga-harga naik hampir setiap jam, para pedagang mengadakan pembukuan dengan menggunakan istilah valuta asing, dengan nilai yang lebih stabil daripada nilai mata uang dalam negeri walaupun mata uang dalam negeri itu terus beredar. Dengan alasan ini beberapa sarjana dan ahli ekonomi lebih suka berfikir tentang unit perhitungan sebagaimana yang diharapkan, tetapi tidak harus merupakan sifat dan milik (property) uang. Tetapi untuk segala tujuan yang praktis, uang itu berfungsi sebagai unit perhitungan.
Fungsi Turunan, yaitu :
• Sebagai alat pembayaran yang sahTidak semua orang dapat menciptakan uang terutama uang kartal, karena uang hanya dikeluarkan oleh lembaga tertentu, di Indonesia dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku Bank Sentral.
• Alat penyimpan kekayaan dan pemindah kekayaan.Dengan uang, kekayaan berupa tanah, gedung, dapat dipindah pemilikannya dengan menggunakan uang.
• Alat pendorong kegiatan ekonomi.Apabila nilai uang stabil, orang senang menggunakan uang itu dalam kegiatan ekonomi, selanjutnya apabila kegiatan ekonomi meningkat, uang dalam peredaran harus ditambah sesuai dengan kebutuhan.
• Standar pencicilan utang.Uang dapat berfungsi sebagai standar untuk melakukan pembayaran dikemudian hari, pembayaran berjangka panjang atau pencicilan utang.
b.      Tahap Satu: 1 Juli 1990 hingga 31 Desember 1993
·       Pada tanggal 1 Juli 1990, pengendalian nilai tukar dihapuskan, sehingga pergerakan modal dibebaskan secara penuh di dalam Komunitas Ekonomi Eropa.
·       Perjanjian Maastricht tahun 1992 menetapkan penyelesaian EMU sebagai tugas formal dan merumuskan serangkaian kriteria pergeseran mengenai tingkat inflasi, keuangan publik, tingkat suku bunga dan stabilitas nilai tukar.
·       Perjanjian ini diberlakukan tanggal 1 November 1993.
Tahap Dua: 1 Januari 1994 hingga 31 Desember 1998
·       Institut Moneter Eropa didirikan sebagai pendahulu Bank Sentral Eropa, dengan tugas memperkuat kerja sama moneter antarnegara anggota dan bank-bank nasional mereka, serta mengawasi uang kertas ECU.
·       Pada tanggal 16 Desember 1995, rincian seperti nama mata uang baru (euro) dan lama periode transisi diputuskan.
·       Pada tanggal 16–17 Juni 1997, Dewan Eropa memutuskan di Amsterdam untuk mengadopsi Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan, yang dirancang untuk menjamin disiplin anggaran setelah penciptaan euro, dan mekanisme nilai tukar baru (ERM II) ditetapkan untuk memberikan stabilitas di atas euro dan mata uang nasional negara-negara yang belum memasuki zona euro.
·       Pada tanggal 3 Mei 1998, dalam sesi Dewan Eropa di Brussels, 11 negara awal yang akan berpartisipasi dalam tahap tiga mulai 1 Januari 1999 dipilih.
·       Pada tanggal 1 Juni 1998, Bank Sentral Eropa (ECB) dibentuk, dan pada tanggal 31 Desember 1998, nilai tukar antara 11 mata uang nasional yang berpartisipasi dan euro ditetapkan.
Tahap Tiga: 1 Januari 1999 dan seterusnya
·       Sejak awal 1999, euro menjadi mata uang nyata, dan kebijakan moneter tunggal diperkenalkan di bawah otoritas ECB. Masa transisi tiga tahun dimulai sebelum pengenalan uang kertas dan koin euro, namun secara hukum mata uang negara-negara anggota sudah tidak berlaku lagi.
·       Pada tanggal 1 Januari 2001, Yunani memasuki tahap ketiga EMU.
·       Uang kertas dan koin euro diperkenalkan bulan Januari 2002.
·       Pada tanggal 1 Januari 2007, Slovenia memasuki tahap ketiga EMU.
·       Pada tanggal 1 Januari 2008, Siprus dan Malta memasuki tahap ketiga EMU.
·       Pada tanggal 1 Januari 2009, Slowakia memasuki tahap ketiga EMU.
·       Pada tanggal 1 Januari 2011, Estonia memasuki tahap ketiga EMU.
·       Pada tanggal 1 Januari 2014, Latvia memasuki tahap ketiga EMU.
·       Pada tanggal 1 Januari 2015, Lituania memasuki tahap ketiga EMU.
Alasan dollar menjadi mata uang internasional

1.      Kekuatan Ekonomi

Penyebab utama mengapa mata uang sebuah negara bisa begitu mendominasi, tentu saja nomor satu adalah kekuatan ekonominya. Di masa lalu, basis penilaiannya adalah seberapa banyak persediaan emas, tetapi kini sudah berbeda. Semakin besar Gross Domestic Product (GDP) suatu negara dan volume transaksi lintas batasnya, maka makin besarlah permintaan untuk mata uangnya. Lebih dari sekedar soal seberapa sehat ekonominya, suatu negeri mesti menjadi pusat permintaan barang dan jasa, sehingga mata uangnya bisa tersedia dengan mudah, didukung oleh sektor ekonomi yang kuat, dan bebas dari campur tangan pemerintah. Tak bisa dipungkiri bahwa hingga tahun 2016 ini, Amerika Serikat merupakan negara dengan total GDP terbesar dan pertumbuhannya sangat consumer-driven, di samping juga memiliki berbagai industri besar berskala internasional. Nilai tukar mata uangnya pun diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar, tanpa adanya intervensi langsung dari pihak pemerintah. 

2.      Negeri Adidaya Militer

Kekuatan militer, baik dari segi personel, persenjataan, maupun intelijen Amerika Serikat sulit dicari tandingannya. Sepanjang sejarah umat manusia, khususnya di era penjajahan dan masa perang dunia, rangkaian peristiwa di mana suatu mata uang menguat diiringi oleh kekuatan militer dominan bukanlah hanya satu atau dua.Dalam laporan Military Strength Index bulan September 2015, AS menempati posisi pertama, disusul oleh Rusia, China, Jepang, dan India di urutan lima besar (Indonesia ada di peringkat 19). Bisa dikatakan bahwa negeri yang kuat secara militer bukanlah AS saja. Namun, mata uang negeri-negeri itu belum tentu memenuhi persyaratan lainnya seperti dolar, dan mereka pun jelas tak menempati rangking satu.

3. Prestise Diplomasi Luar Negeri

Setiap negara cenderung melakukan transaksi perdagangan maupun finansial dengan negara lain dengan siapa mereka punya hubungan baik. Ini salah satu sebab terkuat mengala Dolar jadi mata uang dunia. Kekuatan diplomasi AS mengungguli negara-negara lainnya, bahkan dibanding mereka yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer nyaris mampu bersaing. Ini karena prestise diplomasi bukan soal berapa banyak negara yang "takut", melainkan pada seberapa mampu tim diplomat melobi, berkawan, dan meluaskan jaringan. Mengikuti logika ini, maka negara yang mata uangnya tidak laku biasanya memiliki hubungan buruk dengan negara-negara lainnya. Ambil contoh negara Zimbabwe yang mata uang-nya sudah hancur lebur. Faktanya, ada atas Zimbabwe dari Uni Eropa karena tindakan pelanggaran HAM pemerintahan Robert Mugabe. Atau Korea Utara yang praktis hanya memiliki hubungan dagang dengan China, penukaran mata uangnya pun kabarnya terbatas di wilayah itu saja. Dalam konteks ini, maka bisa dipahami bagaimana Amerika Serikat yang terlibat dan puluhan perjanjian perdagangan dan aliansi lintas negara bisa membuat dolar jadi mata uang dunia.
3.      Stabilitas Dan Kredibilitas, Diterima Di Mana-Mana
Jika Anda ingin pergi belanja di mall, maka tentu akan memastikan dulu bahwa di dalam dompet ada uang yang berlaku secara legal (bukan uang palsu) atau kartu debit/kredit dari bank yang bonafide, bisa diterima di banyak merchant. Demikian pula, pelaku transaksi antar negara akan memastikan bahwa mata uang yang dipakainya memiliki kredibilitas memadai dan akan diterima oleh counterparty. Banyak negara menjadikan Dolar AS sebagai mata uang utama cadangan devisanya semata karena alasan ini (selain juga ketiga poin di atas).